Book-Movie Review

Book Review : Casper, Si Kucing Lucu Penumpang Bus

Benar, rasa sakit karena kehilangan itu memang buruk, dan kau mungkin merasa bahwa kau tidak dapat lagi melanjutkan hidup tanpa ‘mereka’, tetapi kau akan terus melanjutkan hidup. Dan aku percaya bahwa kau akan melakukannya, karena kasih sayang itulah yang membuat kita terus kuat. Dengan mencurahkan isi hati dan harapan-harapan, kita memperluas kapasitas diri untuk peduli.” – p.289

Itulah salah satu pesan yang disampaikan oleh Susan Finden dalam buku karyanya “Casper : Si Kucing Lucu Penumpang Bus”.

Buku berjudulΒ Casper : Si Kucing Lucu Penumpang Bus ini diterbitkan oleh Serambi, ditulis oleh ‘Mama’ Casper sendiri Susan Finden. Dengan tebal buku : 304 halaman, buku ini berisi kisah yang sangat menginspirasi dan memikat hati, terutama untuk para pencinta kucing.

Cover buku Casper

Dalam buku ini Susan Finden juga menceritakan pengalaman hidupnya sebagai seorang istri, ibu bagi anaknya, dan ibu asuh bagi anak-anak angkatnya. Bagaimana kehidupan perkawinan keduanya semakin membuat kita terenyuh, bagaiman sang suami, Chris, mendukung keinginan Susan untuk terus dan terus merawat kucing-kucing tak bertuan, bagaimana mereka saling menguatkan ketika harus kehilangan salah satu dari ‘anak’ mereka, dan bagaimana kekuatan yang diberikan oleh kucingnya ketika Susan harus menghadapi vonis dokter bahwa suaminya Chris, divonis mengidap leukimia.

Kebanyakan kucing yang dipelihara Susan, adalah kucing-kucing yang sudah lanjut usia. Mungkin ketika membaca ada sedikit pertanyaan, “kenapa ia memilih kucing yang sudah lanjut usia??” Dan Susan punya alasan tersendiri, karena pada umur tersebut, sangat sulit bagi seekor kucing untuk mendapatkan rumah dan keluarga yang mau merawat mereka di penghujung usia, dan Susan, ada untuk mereka. Dilatarbelakangi oleh pekerjaannya pada panti sosial yang merawat orang-orang lanjut usia. Tidak ada kesulitan ataupun keluhan yang dilontarkan Susan ketika merawat kucing-kucing ini, karena ketika ia memutuskan untuk meng-adopsi seekor kucing, ia sudah tau konsekuensi yang harus dihadapinya.

Dibuku ini Susan tidak hanya bercerita mengenai Casper, ada sepenggalan cerita tentang kucingnya yang lain, seperti Oscar, Jack dll. Namun Casper, memiliki tempat tersendiri di hati Susan, dan Chris.

Keluarga Finden mengadopsi Casper (yang sebelumnya bernama ‘Morse’) dari sebuah rumah penampungan kucing. Yaps! Susan dan Chris merasakan ada ‘magnet’ yang menarik mereka dari kucing ini. Bukan mereka yang memilih, tapi kucing inilah yang memilih mereka. Cerita mengenai Casper belum berhenti sampai disitu, tingkah laku Casper yang masih saja tetap bersembunyi sesampainya dirumah, bahkan ketika makanan sudah diletakkan di hadapannya lah yang akhirnya membuat Susan memutuskan untuk menamainya ‘Casper’.

Casper dalam sekejap menjadi kucing favorit, dengan sifatnya yang tak sama seperti kucing-kucing pada umumnya. Ia tak suka dikekang, dikurung didalam rumah, dan seolah-olah Casper memiliki jalan pikirannya sendiri, bahkan dalam urusan dengan ‘ibu’ nya ini. Kucing ini suka menjelajah, pergi dari rumah selama berjam-jam, dan kembali kerumah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan hal inilah yang membuat Susan khawatir, ia khawatir akan terjadi sesuatu pada Casper. Dan masih banyak sifat-sifat unik Casper lainnya. Hingga suatu hari ketika Susan pergi ke sebuah klinik untuk berobat, ia menemukan Casper sedang duduk manis di salah satu kursi diruang tunggu.Β Waoow, kucing itu duduk seolah-olah ia akan ikut berobat di klinik tersebut. dan hal yang lebih mengagetkan Susan adalah penyataan dari respsionis klinik tersebut, “Seberapa sering? Yah bisa dikatakan begini. Biasanya kami hanya memiliki sebuah kursi bagi pelanggan yang menunggu resep mereka dibuat-sekatang kami punya dua! Kami harus memberi Casper kursi tersendiri, karena ia sangat sering kemari dan tak seorangpun bisa duduk”. Sudah sejauh inikah Casper bermain, apa masih ada tempat lain yangs sering didatanginya? Pertanyaan itu berkelebat di benak Susan.

Keluarga Finden adalah keluarga yang suka berpindah-pindah, dan setiap mereka pindah, mereka akan memboyong semua kucingnya ikut serta, bahkan Chris pernah beberapa kali menyampaikan keinginannya pada Susan, “sudah saatnya kita mencari seekor kucing lagi untuk rumah ini”.Β Sungguh suatu hal yang menyenangkan jika orang yang paling kita cintai sangat mengerti apa yang kita inginkan.

Dan cerita mengenai Casper berlanjut ketika mereka pindah ke kota Plymouth. Disinilah kisah menakjubkan Casper dimulai. Rumah Susan yang baru terletak di tepi jalan, tepat diseberang sebuah halte. Tanpa sepengetahuan Susan, Casper ternyata sering berpergian dengan salah satu bus, mengantri, menaiki bus layaknya manusia lainnya, berkeliling mengikuti rute perjalanan bus, hingga bus tersebut kembali ke halte diseberang rumahnya. Bahkan belakangan Susan mengetahui bahwa, tak jarang Casper turun di pusat kota, perhentian terakhir bus tersebut, dan menaiki bus lainnya untuk perjalanan pulang. Bus yang menjadi favorit Casper adalah bus nomor 3, dan pengemudi favoritnya adalah Rob. Semua hal ini diketahui Susan ketika tanpa sengaja ia menaiki bus yang biasa ditumpangi Casper, dan disitulah ia menemukan kucing kesayangannya sedang duduk manis di kursi paling depan, dengan wajah polosnya. Susan khawatir! Tentu saja.Segera Susan menghubungi semua perusahaan bus yang sering ia temui, dan hanya satu perusahaan yang merespon suratnya, ya, Bus nomor 3. Dan satu-satunya perusahaan yang merespon dengan baik dan sangat membantu Susan dalam menyebarkan pengumuman mengenai Casper pada pengemudinya (Thanks to Rob)

Casper bersama Susan dan Rob ‘Pengemudi favoritnya’

Tidak ada penumpang yang terganggu dengan kehadiran Casper, semua penumpang senang dan bahagia, mereka merasa terhibur dengan Casper, dan mereka merasa tidak keberatan untuk menjaga Casper. Bahkan ada candaan kecil diantara para pengemudi, betapa mereka bangga jika Casper pernah menaiki bus yang mereka kemudikan, tak jarang beberapa pengemudi ada yang iri karena merasa Casper tidak memilih mereka. Hahahahaha,, Casper mampu mencuri hati mereka. Dan Casper menjadi maskot bagi perusahaan bus ini πŸ˜‰

Casper duduk bersantai

Hingga akhirnya kebiasaan unik Casper ini diketahui oleh media, dan ketenaran Casper menyebar keseluruh belahan dunia. Ia sering muncul di majalah, koran, televisi, bahkanada beberapa perusahaan yang menawarkan untuk membuat film tentang Casper. Dengan terkenal dan menyebarnya berita tentang Casper, hal ini tidak merubah sedikitpun kebiasaan Casper, dia tetap dengan kebiasaannya bepergian berjam-jam, dan pulang pada saat ia merasa sudah waktunya pulang.

Hingga suatu ketika, pada tahun 2010, Susan mendapati bahwa Casper tertabrak sebuah mobil taksi, yang saat itu melaju dengan kencangnya. Ia tahu, suatu saat hal ini akan datang, dan ia tak akan bisa menhindar, walau segala upaya sudah ia lakukan untuk menahan Casper agar tetap dirumah. Dunia runtuh, tanah yang ia pijak seolah-olah menghilang, itu yang dirasakan Susan. Secepat mungkin ia membawa Casper ke klinik langganan mereka, tapi sebelum ia sampai, Casper sudah pergi, dalam pelukannya. Casper telah pergi, ia bahkan telah menggunakan nyawa nya yang ke-9. Susan memutuskan untuk mengkremasi kucing tersayangnya. Dan akhirnyam yang tersisa adalah suatu lubang hampa dihatinya dan Chris. Ketika berita kematian Casper menyebar keseluruh dunia, ratusan surat, email, dan berita berduka cita dikirimkan padanya.

Casper

Sikap Casper yang sederhana mampu memberi kebahagiaan bagi orang-orang disekitarnya.

Yah… cerita ini tak berbeda dengan cerita mengenai hewan peliharaan lainnya. Kisahnya dituturkan sepanjang cerita di buku, dan akhirnya, sang hewan peliharaan akan pergi menuju Rainbow Bridge. Kita tak bisa berharap kalau ia akan hidup selamanya bukan. Ambillah hikmahnya, bukan akhir ceritanya. Cerita Casper menginspirasi saya, dan mengingatkan saya, hewan peliharaan tidak pernah menuntut banyak. Dan dibali apa yang kita liat terhadap mereka, ada sesuatu yang mereka lakukan untuk orang lain, memberi dengan tulus tanpa mengharap balasan.

“Kita tak akan benar-benar bisa pulih dan rasa sakit itu tidak akan menghilang, tetapi entah bagaimana kita akhirnya membiasakan diri untuk hidup dengan dengan rasa sakit itu” – p.292

NB: terimakasih Casper dan Susan Finden, kalian sangat memberi inspirasi buatku agar lebih menyayangi ‘anak-anak’ asuhku dirumah, with Love.

Beberapa info diambil dari :Β http://www.serambi.co.id/Katalog/tampilbuku/509_casper-si-kucing-lucu-penumpang-bus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s