Book-Movie Review

Movie Review : The Cove

Film dokumenter hewan pertama yang saya punya. Sekilas dulu mendapatkan info mengenai film ini dari berita luar negeri (tepatnya apa saya lupa). Film ini menceritakan mengenai pembantaian secara massal terhadap lumba-lumba di perairan Taiji, Jepang dari sudut pandang aktivis konservasi laut. The Cove mendapatkan penghargaan Academy Award for Best Documentary Feature pada 2010, dan U.S. Audience Award  25th Annual Sundance Film Festival pada January 2009.

The Cove

Gerombolan lumba-lumba yang sedang melintas di perairan Taiji selama proses migrasi, digiring menuju ke teluk kecil dengan menggunakan jala, untuk selanjutnya menjemput ajal mereka. Mereka dibunuh dengan tombak, pisau oleh para nelayan dari kapal kecil mereka. Digorok, istilah saya untuk cara para manusia keji ini mengakhiri nyawa makhluk ini. Seketika pembantaian terjadi, air di perairan Taiji berubah menjadi berwarna merah (highlight dapat dilihat saat ending trailer film The Cove di youtube).

Film ini dibuat berasalkan dari dokumentasi milik Ric O’Barrys, seorang pelatih lumba-lumba terkenal (ia dikenal lewat lumba-lumbanya yang bernama Flippers) yang juga seorang aktivis dari Sea Shepherd Conservation Society. Film ini berisi kumpulan dokumentasi dari para volunteer, aktivis hewan, yang dengan segala cara, baik sembunyi-sembunyi atau terang-terangan merekam semua kejadian dan aktivis para nelayan, mulai dari proses penggiringan hingga pembantaian. Kru dokumentasi meletakkan kamera dan video (underwater juga) secara diam-diam dengan menggunakan kamuflase dari alam.  Bahkan lingkungan disekitar teluk ini dikelilingi pagar kawat dengan papan peringatan ‘Keep Out’.

Tak jarang ketika mereka sedang mendokumentasikan, mereka diintai, diikuti bahkan diserang oleh penduduk setempat, yang menganggap perburuan lumba-lumba ini adalah hal yang wajar dan sudah biasa. Bahkan penduduk setempat tak segan-segan mengusir para kru, ingin menutup-nutuppi? Entahlah. How pity people! Salah seorang aktris yang ikut serta sebagai voluntter adalah Hayden Panettiere, aktris ini muncul dalam salah satu scene dokumentasi the Cove.

Film ini benar-benar menggambarkan secara jelas dan terbuka, apa yang terjadi di perairan Taiji, dan mungkin saja kegiatan ini terkadang masih berlangsung disana. Melihat lumba-lumba yang berjuang melepaskan diri dari jalan yang mengelilingi mereka, bagaimana bayi lumba-lumba yang masih kecil panik, berjuang melepaskan diri. Tapi justru hal yang mereka dapatkan dari perjuangan membebaskan diri ini adalah sayatan dan tusukan pada tubuh mereka, oleh para nelayan.

Alasan pembantaian ini disebut-sebut untuk memenuhi kebutuhan penduduk (alasan perut!). Justru ketika kru memperlihatkan sebagian hasil dokumentasi kepada penduduk Taiji, mereka banyak yang tidak tahu apa yang terjadi dibalik daging ikan yang mereka konsumsi. Padahal daging (berlabel) ikan yang mereka beli disupermarket dan mereka konsumsi itu adalah daging lumba-lumba. Daging lumba-lumba atau paus tidak baik untuk dikonsumsi. Karena apa? Daging lumba-lumba mengandung merkuri dalam level tinggi yang membahayakan bagi kesehatan, dikarenakan lumba-lumba juga hewan yang hidup diperairan dalam. Diakhir film ini diceritakan bahwa, setelah para penduduk mengetahui hal ini, pemerintah setempat mulai menghilangkan daging lumba-lumba dari menu makan di sekolah-sekolah.

Semoga ini pembantaian massal hewan laut terakhir yang pernah ada 🙂

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s